Rabu, 18 Februari 2015

BIDANG-BIDANG KAJIAN MANAJEMEN



A.      Definisi Manajemen
Sebelum membahas mengenai bidang-bidang kajian manajemen, alangkah lebih baiknya jika kita mengetahui terlenih dahulu mengenai konsep manajemen itu sendiri. Menurut Prof. Komaruddin Sastradipoera, terdapat sembilan buah definisi manajemen yang dapat digunakan untuk memahami cakupan kajian manajemen, diantaranya sebagai berikut:
1.      Manajemen sebagai individu atausekelompok individu yang bertanggung jawabuntuk menganalisis, merumuskan keputusan, dan memrakarsai tindakan yang memadaisehingga dapat menguntngkan organisasi.
2.      Manajemen sebagai suatu proses pengalokasian masukan suatu organisasi melaui perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan agar dapat memproduksi dan memasarkan keluaran yang dibutujkan oleh para pelanggan sehingga sasaran organisasi itu tercapai.
3.      Manajemen sebagai kegiatan pengalokasian dan pengintegrasian masukan organisasi dari “paara pemegang taruhan” (stakeholders) dalam suatu lingkungan melaui fungsi-fungsi yang didasarkan pada norma-norma tertent dengan jalan memproduksikeluaran yang dibutuhkan oleh masyarakat agar visi, misi, an tujuan organisasi itu dapat tercapai.
4.      Manajemen sebagai sebuah sistem yang berbentuk oleh sejumlah komponen yang beinterelasi, interaksi, dan interdepensi secara holistik dalam mencapai tujuan.
5.      Manajemen sebgaia suatu institusi yang berbentuk oleh proses kebudayaan yang mengelola alam pikiran dalam organisme sosial melalui sistem informasi sehingga terbentuk suatu keyakinan, nilai-nilai, prilaku, dan sikap yang relevan dengan visi, misi, dan tujuan institusi tersebut.
6.      Manajemen sebagai orgsnidsdi formal menggambarkan sejumlah posisi, wewenang, tanggung jawab, dan peranan yang terdeferensiasi menurut pembagian tugas dalam sebua struktur organisasi yang bergerak untuk mencapai tujuan yang efektif, efesien, inovatif, dan kompetitif.
7.      Manajemen sebagai entitas yang menunjukan autoritas yang berkaitan dengan pemecahan masalah sesuai dengan hierarki wewenang yang ada pada setiap anggota.
8.      Manajemen sebag kebijaksanaan menampilakn suatu sistem kerjasama keseluruhan dan sumber dayan manusia dan sumer daya bukan manusia untuk merealisasikan visi, misi, dan tujuan du dalam suatu sistem tertntu.
9.      Manajemen sebagai sebuah ilmu yang mangkaji upaya manusia untuk mencapai yujuan yang telah ditetapkan dengan bantuan sejumlah sumber daya memalui metode yang efesien dan efektif. Karena manajemen merupakan sebuah ilmu normatif, maka tugasnya adalah “membuat ilmu manajemen itu menjadi amanat”.
Setelah kita melihat beberapa definisi manajemen yang ditinjau dari beberapa aspek, maka selanjutnya adalah mengenaibidang-bidang kajian manajmen.
B.      Bidang-bidang Kajian Manajemen
Dalam penggolangan bidang manajemen ini dapat dilihat dari sudut pandang pandang fungsi dismping dari sudut bidang atau dapat dilihat dari sudut pandang “wilayah” (area) manajemen. Jika dilihat dari sudut pandang wilayah atau area manajemennya, maka bidang-bidang manajemen terbagi dalam 5 bidang kajian manajemen, yakni: manajemen operasional, manajemen marketing, manajemen finansial, manajemen personalia, dan manajemen perkantoran. Dalam bidang manajemen yang satu agar berkeninambungan dengan difang kajian manajemen yang lainnya, dapat menggunakan sebuah sistem, yakni Sistem Informasi Manajemen. Untuk lebih jelasnya akan dijelaskan sebgaai berikut:
1.      Manajemen Operasional
Dalam manajemen operasi terdapat kata manajemen dan operasi tidak sedikit para ahli yang mendefinisikan manajemen operasional. Berikut beberapa definisi menurut para ahli:
·         Menurut Pangestu Subagyo (2000;1), manajemen operasi adalah penerapan ilmu manajemen untuk mengatur kegiatan produksi atau operasi agar dapat dilakuakn secara efisien.
·         Menurut Edy Herjanto (2003;2), manajemen oprasi adalah suatu proses yang secara berkesinambungan dan efektif menggunakan fungsi–fungsi manajemen untuk mengintegrasikan berbagai sumber daya secara efisien dalam rangka mencapai tujuan.
Melihat beberapa definisi tersebut kita dapat menyimpukan bahawa, manajemen operasional adalah pelaksanaan fungsi-fungsi manajemen (Leading, Planning, Organizing, dan Controlling) ke dalam kagiatan produksi, guna mencapai tujuan yang telah ditentukan sebelumnya dan menghasilkan sebuah atau beberapa barang atau jasa.
Dalam pelaksanaannya, manajemen operasional berkaitan dengan beberapa kegiatan, diantaranya sebagai berikut:
a.       Analisiis operasional
Analisiis operasional merupakan suatu bentuk rekayasa industrial yang memisah-misahkan pekerjaan ke dalam sejumlah kegiatan fungsional dan merancang arus pekerjaan untuk membangun urutan terjadwal yang paling efesien dalam menghasilkan produk.
b.      Rencana operasional
Rencana operasional merupakan rencana jangka pendek yang berhubungan dengan penjadwalan operasi atau proses intern.
c.       Pengawasan operasional
Pengawasan operasional merupakan pengaruh menejemen atas masukan dan kegiatan da!am pelaksanaan perusahaan sehari-hari atau menurut periode waktu tertentu. Pengawasan dilakukan dengan sistem "umpan- balik" dan sistem "umpan-maju". Pengendalian umpan-balik (feedback control) merupakan pengendalian yang digunakan untuk memantau dan memperbaiki kesalahan sendiri. Pengendalian umpan-balik bertujuan untuk mengukur hasil suatu kegiatan yang telah selesai dilaksanakan. Konsep pengendalian umpan-balik menekankan pada pentingnya penyiapan informasi yang dapat digunakan untuk memantau baik program maupun jadwal kegiatan (Komaruddin, Ensiklopedia Menejemen, Bumi Aksara, Jakarta, 1994, h.298). Sementara itu, pada pengendalian umpan-maju (feedforward control), sebelum tahap pemrosesan ataupun tahap keluaran, masukan diperiksa dan dibandingkan dengan formula yang telah ditetapkan. Berlainan dengan pengendalian umpan-balik, pengendalian umpan-maju menetapkan bahwa keluaran yang tidak sesuai dengan standar disesuaikan sebelum pemeriksaan yang dilakukan pada produk akhir (Eiji Ogawa, Modern Production Management, Asian Productivity Organization, Tokyo, 1984)

2.      Manajemen Marketing
Dalam bidang kajian manajemen marketing atau manajemen pemasaran terdapat 2 kata yang memiliki arti yang berbeda tetapi dapat dintegrasikan. Berikut adalaha beberapa definisi manajemen pemasaran, dalam R. Ristrini, 2009:
·         Menurut Levey, S. dkk, (1994) menyatakan bahwa pemasaran adalah analisis, perencanaan, implementasi dan pengendalian dari program yang dirancang secara hati-hati untuk pertukaran nilai dengan target pasar untuk mencapai tujuan organisasi.
·         Menurut Cooper, P.D., 1979 yang dimaksud dengan pemasaran adalah kegiatan manusia yang diarahkan untuk kepuasan keinginan dan kebutuhan melalui proses penukaran.
Dalam buku Asas-Asas Manajemen Perkantoran, 2007: 17-18, manajemen pemasaran mencangkup perencanaan, pengorganisasian, pengarahan, dan pengawasan terhadap pelaksanaan marketing perusahaan secara menyeluruh. Menejemen marketing berhubungan dengan perumusan tujuan, kebijaksanaan, program, dan strategi marketing, dan acapkali mencakup pula pengembangan produk, pengorganisasian dan penyusunan staf untuk melaksanakan rencana, menyelia operasi marketing, dan memantau kinerja.
Menejemen marketing didukung oleh sistem Informasi mil Sistem informasi marketing adalah sistem yang digunakan suatu perusahaan untuk menghimpun, menganalisis, menyimpan dan menyebarkan informasi marketing yang relevan kepada yang memerlukan informasi tersebut melalui fungsi manajemen perkantoran. Dalam upayanya untuk melayani pasar dengan seorang menejer marketing memerlukan informasi (yang diproses oleh sistem informasi marketing dalam manajemen perkantoran). Informasi yang diperlukannya, antara lain, meliputi:
a.                   Informasi mengenai pelanggan dan calon pelanggan yang mencakup ciri-ciri, selera, kebutuhan, daya-bell, kebiasaan, pikiran, nilai-nilai dan keyakinan yang dianut, harapan, dangau hidup (way of Life) mereka.
b.                  Informasi mengenai para pesaing dan pesaing potensial yang mencakup produk yang dijual, harga yang diminta, posisi dalam pasar, dan tindakan dan kebijakan yang mereka lakukan, Informasi mengenai struktur pasar atau persaingan ini merupakan informasi yang berkaitan dengan kemungkinan munculnya persaingan bebas (lokal, nasional, atau global), persaingan monopolistik, monopoli, duopoli, atau monopololde.
3.      Manajemen Finansial
Menejemen finansial (secara populer disebut juga "manajemen permodalan" atau "menejemen keuangan") kerapkali diangggap sebagai "pusat laba" {profit center) ketiga, karena manajemen ini  sangat strategis dalam mencapai tujuan perusahaan. Manajemen finansial merupakan bidang menejemen yang berhubungan dengan penggunaan teknik khusus untuk mengkaji informasi dan dokumen keuangan suatu perusahaan. Di samping itu, menejemen nini berhubungan dengan pengarahan dan pengawasan arus dana, baik di dalam maupun di luar perusahaan itu. Untuk itu, menejemen finansial perlu melaksanakan:
a.                    Pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan ini dilakukan secara periodik. Laporannya meliputi posisi keuangan suatu organisasi atau bagiannya mengenai hasil pelaksanaan, kegiatan, dan transaksi keuangan.
b.                   Ramalan keuangan. Ramalan keuangan (financial forecasting menyajikan data futuristik (yang disebut "informasi"), khususnya laporan keuangan yang diperkirakan akan terjadi di waktu yang akan datang.
c.                     Pengawasan keuangan. Faktor esensial yang perlu diperhatikan dalam proses pengawasan keuangan adalah anggaran, analisis keuangan, dan analisis impas (breakeven analysis).
Dalam menejemen modern, setiap keputusan menejemen akan melibatkan uang. Oleh karena itu, (Komaruddin, Menejemen Permodalan Perusahaan Modern; Suatu Pendekatan Analitis, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, h.9) para eksekutif finansial memiliki peluang yang tidak putus-putus untuk menyumbangkan pengetahuan dan informasi untuk pembuatan keputusan melalui fungsi menejemen perkantoran. Jika demikian halnya, tujuan eksekutif finansial adalah memanfaatkan peluang tersebut untuk menggunakan menejemen finansial yang tepat di seluruh organisasi perusahaan.
Peranan menejemen finansial telah berkembang sampai suatu titik di mana fungsinya dibutuhkan dalam berpartisipasi untuk pembuatan keputusan. Bilamana cakupan menejemen finansial didefinisikan kembali agar dapat meliputi keputusan-keputusan yang berhubungan dengan penggunaan dan perolehan dana adalah menjadi nyata, bahwa isi pokoknya harus berkaitan dengan masalah bagaimana menejemen finansial tersebut harus membuat penilaian mengenai apakah suatu perusahaan mesti mempertahankan, mengurangi, atau menaikkan investasinya dalam segala bentuk aktiva yang membutuhkan dana perusahaan. Oleh sebab itu, hal itu memerlukan dasar untuk menjawab tiga buah pertanyaan esensial: (1) aktiva spesifik apakah yang mesti diperoleh perusahaan; (2) berapakan jumlah total dana yang mesti disiapkan dan dikerahkan perusahaan- dan (3) bagaimanakah seyogianya dana dibutuhkan Itu dibiayai? Ketiga pertanyaan esensial itu hanya dapat dijawab secara rasional jika Informasi mengenai hal Itu absah, signifikan, dan tepat waktu.

4.      Manajemen Personalia
Dilihat dari sejarah pemikiran menejemen, menejemen personalia dapat dianggap sebagai "pusat laba" (profit centei) keempat. Menejemen personalia mempelajari bagaimana para pengusaha atau majikan memperoleh, mengembangkan, menggunakan, menilaif merawat, dan mempertahankan para anggota dan jenis karyawan yang tepat. Seorang Guru Besar menejemen dari Universitas Arizona, Amerika Serikat, Edwln B. Flippo menyatakan dalam bukunya Personnel Management (Mc Graw-Hill International Book Company, Auckland, 1981, h.5; Komaruddin Sastradipoera, Menejemen Sumber Daya Manusia; Suatu Pendekatan Fungsi Operatif, Penerbit Kappa-Sigma, Bandung, 2002, hh. 12-14) bahwa fungsi-fungsi menejemen personalia itu meliputi:
a.               Fungsi-fungsi menejerial yang meliputi menejemen perencanaan, menejemen pengorganisasian, menejemen pengarahan, dan menejemen pengawasan yang berkaitan dengan personalia.
b.              Fungsi-fungsi operatif yang meliputi fungsi-fungsi pengadaan, pengembangan, kompensasi, integrasi, perawatan, dan pemutusan hubungan kerja. Analisis jabatan, deskripsi jabatan, spesifikasi jabatan, kebutuhan personalia, sumber personalia, seleksi personalia, dan Induksi adalah beberapa hal yan9 memerlukan informasi yang sah, signifikan, dan tepat-waktu.

Berbeda dengan pengertian diatas, dalam Asas-Asas Manajemen Perkantoran, 2007: 20-22, Flippo di atas, P. Ghosh dalam artikelnya & "Modern Concept of Personnel Functions" (R.S. Dwlvedi, Manpo Management; An Integrated Approach to Personnel Management and Labour Relations, Prentice-Hall of India Private Limited, New Delhi, 1980, h.20) menyatakan bahwa pada garis besarnya fungsi-fungsi pesonalia seorang menejer itu dapat diklasifikasi dalam:
a.               Perencanaan tenaga kerja, baik jangka-pendek maupun jangka-panjang.
b.               Pengorganisasian, identifikasi dan pengelompokan pekerjaan melalui tabel, bagan organisasi, atau bagan arus; program pelatihan dan pengembangan berdasarkan kebutuhan untuk seluruh tingkatan personalia; dan pendelegasian tanggung-jawab dengan wewenang yang cukup bagi tingkatan-tingkatan personalia yang berbeda.
c.                Membangun suatu tim dengan efektif untuk mencapai sasaran dasar organisasi.
d.              Peningkatan motivasi di antara tingkatan-tingkatan personalia yang berbeda.
e.               Pengawasan standar pelaksanaan dan penilaian hasil terhadap    sasaran.
f.                  Ko-ordinasi kebijaksanaan-kebijaksanaan dan program- program personalia yang secara khusus mengacu pada aspek-aspek hubungan masyarakat.
Dengan berubahnya paradigma dari pandangan pekerja sebagai faktor produksi ke pandangan pekerja sebagai komponen strategis dalam mendukung konsep keunggulan kompetitif, maka pada saat ini orang lebih suka menyebut menejemen personalia itu dengan "menejemen sumber daya manusia" (human resources management) yang kadang-kadang disebut pula dengan "menejemen sumber daya Insani." Pandangan yang terakhir itu (yang menciptakan konsep menejemen sumber daya manusia), dianggap oleh para ahli menejemen sebagai sesuatu yang berkaitan dengan perilaku produktif dalam arti perilaku konstruktif, kreatif, dan imajinatif dai karyawan yang hidup dalam suatu budaya organisasi seperti tampak dari sumbangannya yang signifikan atas lingkungan kerja.
Tentu saja, para ahli pun berharap agar perubahan konsep itu bukan sekadar penghalusan bahasa (eufemisme), sekadar upaya menciptakan sebuah ungkapan untuk menghibur para karyawan yang ditelantarkan oleh revolusi industri yang lebih menghargai modal dan teknologi.
5.      Manajemen Perkantoran
Dalam buku Asas-Asas Manajemen Perkantoran, 2007: 22, menejemen perkantoran diketahui sebagai suatu cabang menejemen yang berhubungan dengan pelayanan (sevice) dalam perolehan, pencatatan dan penganalisisan informasi, perencanaan, dan pengkomunikasian yang dengan fungsi-fungsi itu menejemen organisasi merawat aktivanya, mengembangkan fungsi-fungsi dan kegiatan-kegiatannya, dan mencapai sasaran-sasarannya. Melalui Sistem Informasi Menejemen selanjutnya menejemen perkantoran mengkoordinasikan seluruh kegiatan dalam sistem menejemen tersebut. Karena itu, para ahli menejemen hampir seluruhnya sepakat bahwa menejemen perkantoran mempunyai fungsi sebagai koordinator.
Dalam buku Asas-Asas Manajemen Perkantoran, 2007: 22-23, terdapat beberapa menejemen perkantoran yang utama, sebagai berikut:
1.                    Menerima informasi. Menejemen perkantoran yang membantu menejemen dalam pembuatan keputusan tidak bersifat menunggu datangnya informasi. Oleh karena senantiasa terjadi perubahan lingkungan, maka menejemen perkantoran yang berorientasi pada proses pembuatan keputusan (yang di dalam buku ini disebut: "menejemen perkantoran Druckeristik") harus dengan aktif mencari fakta, data, dan informasi tersebut dari pelbagai sumber yang mungkin masih harus dicarinya.
2.                    Mencatat informasi. Segenap fakta, data, dan informasi relevan dengan visi, misi, dan tujuan menejemen yang diterimanya itu perlu dicatat dengan rajin dalam sistem pencatatan (reacord system) yang memadai. Dalam hal Ini, walaupun kebiasa berkomunikasi secara lisan mempunyai efektivitas dan efisiensi tertentu, namun pembentukan kebiasaan berkomunikasi secara tulisan akan jauh lebih berguna, khususnya untuk keperluan kecermatan, ketepatan, kepraktisan, serta perencanaan dan pengawasan informasi.
3.                    Memproses informasi. Informasi yang bermutu dan lengkap menjadi bahan pemrosesan informasi yang efektif sehingga penganalislsan dan penafsirannya menjadi sesuatu yang dapat menghindarkan diri dari keputusan spekulatif dan keputusan yang hanya didasarkan pada metode "coba-coba" (trial and error method).
4.                    Menyajikan informasi. Setelah informasi yang bermakna (yaitu informasi yang relevan dengan kebutuhan dan berorientasi ke waktu yang akan datang) tersedia, menejemen perkantoran perlu menyajikannya dengan standar metode dan prosedur tertentu sesuai dengan hierarki (petala) menejemen yang ada dalam organisasi. Karena itu, informasi yang perlu disajikannya tersebut hendaknya kontekstual.
5.                    Merawat aktiva. Melalui analisis dan penafsiran atas data yang dimilikinya, menejemen perkantoran dapat memberikan informasi mengenai seluruh aktiva yang menjadi harta suatu organisasi. Misalnya, melalui pembukuan tentang depresiasi aktiva-tetapnya, menejemen perkantoran dapat menetapkan kapan suatu mesin perlu diganti, kapan suatu bangunan harus direnovasi; melalui laporan marketing, menejemen perkantoran dapat menyarankan perubahan jumlah dan mutu produk seperti apa yang akan dijual di pasar tertentu, pesaing efektif dan potensial dari mana yang mungkin membahayakan segmen pasar yang telah dikuasainya, dan perubahan-perubahan teknologi apa yang harus dilakukan untuk menghadapi perubahan permintaan di pasar, dan berapa dana yang harus disiapkan untuk keperluan itu; dan melalui catatan personalianya, menejemen perkantoran dapat menetapkan kapan seseorang harus dipromosikan, dimasukkan dalam program pengembangan dan pelatihan, dimutasikan, dirotasikan, dan dipensiunkan. Dengan cara itu, sistem informasi menejemen perkantoran dapat memberikan sumbangan berarti bagi perawatan aktiva berupa sumber daya manusia dan aktiva berupa bukan sumber daya manusia.

Fakta yang disusun menjadi data kemudian diolah hingga menjadi informasi. Sistem yang mengelolanya disebut Sistem Informasi Menejemen (SIM). Sistem Informasi Menejemen merupakan suatu sistem pemrosesan data spesifik yang dirancang untuk melengkapi menejemen dengan informasi mutakhir, signifikan, dan proyektif dalam waktu yang nyata.
Bidang menejemen yang perlu merancang dan menerapkan SIM adalah menejemen perkantoran. Produknya dalam bentuk informasi akan disajikan kepada fungsi-fungsi lain yang relevan da membutuhkan. Salah satu fungsi yang memerlukan informasi tersebut adalah fungsi kepemimpinan. Pemimpin membutuhkannya terutama untuk membuat keputusan. Karena itulah, menejemen perkantoran modern berkaitan dengan ketatausahaan yang mengelola informasi dengan bantuan SIM dan proses pembuatan keputusan yang dilakukan oleh pemimpin organisasi. Itulah perbedaan penting antara menejemen perkantoran tradisional yang hanya berhubungan dengan pekerjaan-pekerjaan ketatausahaan atau pekeijaan-pekerjaan klerikal (yakni, "pekerjaan kertas," atau pada saat ini merupakan "pekerjaan pita rekaman" atau "pekerjaan cakram rekaman") dan menejemen perkantoran modem yang berhubungan dengan pengelolaan informasi untuk keperluan pembuatan keputusan yang menjadi pekerjaan strategis seorang pemimpin.


Sumber Rujukan

 

Ristrini, R. (2009). Implementasi Manajemen Pemasaran Dalam Rangka Membangun Citra (Image) Masyarakat Terhadap Puskesmas. Diakses pada tanggal 13 Februari 2015, dari bpk.litbang.depkes.go.id

Sastrasipoera, Komaruddin. (2007). Asas-Asas Menejemen Perkantoran: Suatu Endekatan Sistem Informasi Menejemen. Bandung: Kappa-Sigma.

Subagyo, Pangestu. (2000). Manajemen Operasi. Yogyakarta: BPFE.

Yamit, Zulian. (2003). Manajemen Produksi dan Operasi. Yogyakarta: Ekonisia-Fakultas Ekonomi Universitas Islam Indonesia.